Setelah melihat kemampuan pertahanan dan kerja sama yang baik dari suku Sinto, Lynx berniat untuk segera mengumpulkan kekuatan lainnya. Dia berniat mendatangi suku-suku yang ada di pulau itu untuk bekerja sama melawan Monrest. Namun, sebelum berangkat, Lynx ingin memastikan tentang gambar yang ada di dalam gua.

Keesokan harinya, Lynx menemui Drona untuk membahas mengenai rahasia gambar yang ada pada gua. Lynx berdiri di depan sebuah bangunan yang baru didirikan. Meski terlihat memiliki bentuk yang sama dengan bangunan lain, ada ciri khas tersendiri pada bangunan tersebut, terdapat aroma ramuan obat dan berbagai aroma keluar dari rumah tersebut.

Lynx melihat seorang nenek yang sedang duduk sambil tangannya mengulek dedaunan untuk dibuat ramuan.

"Nenek Drona, mohon maaf jika aku mengganggumu," kata Lynx. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu tentang gua ini," lanjutnya.

Nenek Drona segera berdiri dan menghampiri Lynx, sambil memegang tongkat kayu yang kokoh. Meskipun wajahnya terlihat tenang, matanya yang tajam tidak bisa menyembunyikan rasa keingintahuannya.

"Kau bilang ada sesuatu di tentang gua ini yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Drona sambil melirik ke arah Lynx.

"Ya," jawab Lynx. "Aku menemukan sesuatu di dalamnya. Gambar-gambar aneh yang terpahat di dinding. Aku pikir kau mungkin tahu sesuatu tentang itu."

Drona menghela napas panjang. "Aku sudah mendengar tentang gua ini sejak masih kecil, tapi tidak ada yang benar-benar memahaminya. Aku sendiri penasaran tapi belum pernah datang kesini. Mari kita lihat."

Keduanya masuk ke dalam gua, mengikuti jalur terowongan yang terlihat memiliki banyak cabang. Suara langkah kaki mereka menggema, menciptakan suasana yang terasa semakin dalam dan asing. Setelah beberapa lama, mereka tiba di sebuah ruangan besar. Ruangan ini berbeda dari yang lain. Langit-langitnya tinggi, dan dindingnya dipenuhi ukiran-ukiran yang lebih rumit. Gambar-gambar aneh memenuhi setiap inci permukaan batu, memperlihatkan pemandangan yang sulit dijelaskan.

Lynx mengangkat obor lebih tinggi, menunjuk ke arah salah satu gambar besar di tengah dinding. Polanya tampak kompleks, berupa lingkaran yang dikelilingi garis-garis melengkung dan segitiga kecil.

"Apa pendapatmu?" tanya Lynx, menatap gambar itu dengan penuh perhatian.

Drona berjalan mendekat, matanya memperhatikan setiap detail. Ia mengusap permukaan dinding dengan tangan, seolah mencoba merasakan sesuatu dari teksturnya. "Aku pernah mendengar cerita tentang gambar-gambar ini dari leluhur kami," katanya pelan. "Tapi itu hanya cerita. Tidak ada yang tahu apa artinya."

"Lalu kenapa mereka ada di sini?" tanya Lynx dengan nada serius. "Gua ini memiliki bekas penggalian bijih besi. Kalau ada yang cukup pintar untuk membuat tambang seperti ini, bukankah mereka juga seharusnya meninggalkan catatan yang lebih jelas daripada gambar seperti ini?"

Drona menggeleng. "Tidak ada yang tahu apa itu bijih besi sampai kau datang dan memberitahukan namanya kepada kami. Leluhur kami tidak pernah bisa mengolah batuan ini, jadi gua ini terlupakan. Tidak ada yang tertarik untuk datang ke sini, apalagi mencoba memahaminya."

Lynx memandang gambar itu lagi. "Jadi gua ini benar-benar tidak memiliki arti apa-apa bagi suku Sinto atau Monrest?"

"Tidak ada," jawab Drona. "Suku Monrest pun tidak pernah menunjukkan minat terhadap gua ini. Mereka lebih peduli pada perang dan kekuasaan daripada hal-hal seperti ini."

Lynx menghela napas panjang. "Itu tidak masuk akal. Gambar ini jelas bukan sesuatu yang dibuat tanpa alasan. Dan kalau ini bukan pekerjaan suku Sinto atau Monrest, siapa yang membuatnya?"

"Selain itu, karena mengikuti petunjuk peta di gambar ini, bukankah aneh jika jalur yang kita lewati saat ke sini, terasa jauh lebih aman daripada di tempat lain?" lanjut Lynx sambil menunjuk sebuah gambar seperti peta di dinding.

Drona hanya mengangkat bahu. "Memang aneh, apalagi usia gua ini sudah ratusan tahun. Mungkin orang-orang yang pernah tinggal di pulau ini sebelum kami. Atau mungkin sesuatu yang lebih tua dari itu. Tidak ada yang tahu."

Lynx lalu memperlihatkan cincin logam yang dia pasang di jarinya. Ia mengangkat cincin itu di bawah cahaya obor, memperlihatkannya kepada Drona.

"Sebenarnya, selain surat dan pil, aku juga menemukan cincin ini dari barang-barang peninggalan Milo," katanya. "Dan aku pikir kau mungkin tahu sesuatu tentang ini juga."

Drona memperhatikan cincin itu dengan mata yang tajam. Ia mengambilnya dengan tangan keriputnya dan memeriksanya dengan saksama. Ukiran di sekitar cincin itu tampak rumit, dengan pola melingkar yang mengingatkan pada gambar-gambar di dinding gua.

"Aku tahu benda ini," kata Drona akhirnya, suaranya berbisik. "Milo pernah memperlihatkan cincin ini kepada kami."

Lynx menatapnya dengan tajam. "Jadi, Nenek tahu mengenai cincin ini?"

Drona mengangguk pelan. "Ya. Dia berbicara tentang banyak hal yang tidak aku mengerti waktu itu. Tapi aku ingat dia menyebut cincin ini. Dia bilang cincin ini adalah bagian dari suatu alat, sebagai kunci untuk sesuatu yang sangat penting."

"Kunci?" tanya Lynx, penasaran. "Untuk apa?"

"Portal," jawab Drona dengan suara pelan tapi mantap. "Dia bilang cincin ini adalah kunci untuk mengaktifkan portal yang bisa membuka jalan ke dunia lain. Karena cincin ini jugalah dia mengalami kecelakaan hingga datang ke tempat ini."

Lynx terdiam, matanya kembali tertuju pada cincin itu. "Dan portal itu... apakah ada di sini?"

Drona menggeleng. "Tidak. Milo mengatakan bahwa alat untuk mengaktifkan portal itu berada di tangan Monrest. Dia menyebutnya sebagai sebuah 'artefak.' Monrest tidak tahu cara menggunakannya, mereka selalu mengejar Milo agar memberitahu cara agar mereka bisa keluar dari tempat ini."

Lynx terdiam sejenak, pikirannya berputar cepat memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Lynx menggenggam cincin itu erat-erat, pikirannya berputar cepat. "Kalau alat itu ada di tangan Monrest, maka kita harus menemukannya agar kita bisa menggunakannya untuk keluar dari tempat ini," lanjut Lynx dengan nada serius.

Drona mengangguk pelan. "Ya, itu benar. Jika portal itu memang ada, maka kita harus mencegah Monrest untuk menggunakannya. Mereka terlalu berbahaya jika dibiarkan keluar dari pulau ini."

"Tapi bagaimana kita bisa menemukan artefak itu?" tanya Lynx. "Monrest pasti menjaganya dengan ketat."

"Mungkin cincin itu bisa memberi kita petunjuk," jawab Drona sambil memperhatikan cincin di tangan Lynx. "Jika memang benar cincin ini adalah kuncinya, maka mungkin ada sesuatu yang bisa kita pelajari darinya."

Lynx mengangguk. "Kau benar. Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang cincin ini. Mungkin ada informasi yang terlewat yang bisa membawa kita ke artefak itu."

"Tapi kita harus berhati-hati," lanjut Drona. "Monrest pasti juga sedang berusaha mencari cara untuk menggunakan artefak itu. Kamu harus menjaga cincin itu dengan baik, jangan sampai terjatuh ke tangan mereka."

Lynx mengangguk tegas. "Kau benar, aku tidak boleh lengah. Cincin ini terlalu penting untuk jatuh ke tangan Monrest. Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati."

"Baiklah, ayo kita mulai mencari tahu lebih banyak," ucap Lynx dengan penuh semangat. "Kita tidak bisa membiarkan Monrest menguasai portal itu. Keselamatan semua orang di pulau ini tergantung pada kita."

Drona mengangguk setuju. Setelah itu, mereka meninggalkan gua, membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Namun, Lynx tahu satu hal dengan pasti: cincin kecil itu adalah kunci dari sebuah misteri besar, dan langkah berikutnya adalah mencari tahu di mana artefak Monrest berada sebelum semuanya terlambat.

Setelah mendengar penjelasan Nenek Drona tentang cincin dan portal, Lynx termenung di luar gua. Langit malam mulai gelap, hanya diterangi oleh bintang-bintang yang berkilauan. Ia menggenggam cincin itu di tangannya, merasakan dinginnya logam yang penuh misteri. Drona yang melihatnya dari kejauhan mendekat, mengamati ekspresinya yang serius.

"Kau memikirkan sesuatu, Lynx," kata Drona akhirnya. "Apa rencanamu?"

Lynx mengangkat kepalanya, menatap jauh ke dalam kegelapan hutan di sekitar perkampungan mereka. "Kalau Monrest benar-benar memiliki artefak itu, kita tidak bisa hanya bertahan di sini. Kita harus mencari sekutu di luar sana. Suku-suku lain di pulau ini mungkin bisa membantu kita."

Drona mengangguk pelan. "Itu ide yang bagus, tapi tidak mudah."

"Aku tahu," balas Lynx. "Tapi jika kita bisa menyatukan kekuatan suku-suku lain, kita punya peluang lebih besar untuk melawan Monrest. Mereka tidak bisa terus menguasai pulau ini sendirian."

Drona menatap Lynx dengan pandangan yang dalam. "Ide yang baik, tapi tidak mudah. Kau tahu, setiap suku di pulau ini punya caranya sendiri untuk bertahan. Banyak dari mereka memilih menghindar daripada melawan."

"Aku tahu," jawab Lynx. "Tapi mereka tidak bisa terus bersembunyi. Jika Monrest dibiarkan, tidak ada tempat aman bagi siapa pun."

Drona menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati tongkatnya dan menggambar peta kasar di tanah dengan ujungnya. "Kalau kau ingin mencari sekutu, kau harus tahu di mana mencarinya. Ada beberapa suku yang mungkin bisa kau ajak bekerja sama, tapi perjalanannya tidak akan mudah."

"Katakan padaku, Nenek," pinta Lynx, matanya penuh rasa ingin tahu. "Di mana mereka berada?"

Drona menggambar peta kasar di tanah dengan tongkatnya. "Suku-suku yang paling dekat dari sini ada di timur laut hingga tenggara pulau," jelasnya. "Mereka cukup jauh dari tempat kita sekarang, perlu waktu sangat lama untuk menempuh perjalanan kesana."

Drona menunjuk ke sebuah titik di tanah. "Kita berada di sini, di bagian barat pulau. Suku-suku yang mungkin mau bekerja sama ada di timur laut hingga tenggara. Mereka jauh, Lynx, dan jalannya tidak mudah."

Ia menggambar garis ke arah timur laut. "Di sekitar sini seharusnya ada suku Uksa. Mereka adalah pembuat alat jebakan terbaik di pulau ini. Tapi hati-hati, mereka tidak mudah percaya pada orang asing. Mereka cenderung berpindah-pindah untuk menghindari Monrest. Menemukan mereka mungkin menjadi tantangan pertama bagimu."

"Apakah mereka mau membantu kita?" Tanya Lynx.

"Mereka menjaga hubungan netral dengan suku-suku lain, tetapi jarang membantu dalam konflik. Ketika Monrest mendekat, mereka biasanya berpindah tempat untuk menghindari konfrontasi"

Lynx mengangguk, mencatat dalam pikirannya hal-hal yang dapat membantunya menemukan mereka.


